Wednesday, November 19, 2008

Rain Drops

1. Open any image that you want to add rain drops too. In order to make this look more realisitc, I'm going to use the following image of a green leaf.

Rain Drops Photoshop Tutorial

2. Create a new layer named Drop1 and select the Elliptical Marquee Tool and make a selection which looks like a drop on the leaf.

Rain Drops Photoshop Tutorial

3. Next set press D on your keyboard to set the foreground color to black and the background color to white, or you can do this manually. After reseting these colors, select the Gradient Tool from the Tools Palette. In the tool options bar at the top of the screen, make sure that the first button, linear gradient is selected and that the foreground to background gradient is selected.

Rain Drops Photoshop Tutorial


Now that the proper Gradient Tool settings have been selected, drag the mouse from the left side of the selected oval to the right.

Rain Drops Photoshop Tutorial

4. With the Drop 1 layer selected, change this layer's blend mode to Overlay in the Layers Palette.

Rain Drops Photoshop Tutorial

5. Next right-click on the Drop 1 layer and select Blending Options. Apply the following Drop Shadow settings: Opacity 50, Angle 158, Distance 7, Spread 0, and Size 5.

Rain Drops Photoshop Tutorial

6. Apply the following Inner Shadow settings: Opacity 75, Angle 158, Distance 5, Spread 0, and Size 5.

Rain Drops Photoshop Tutorial

7. For the Glow Effect, create a new layer named Glow and set the foreground color to white. Then select the Brush Tool and make a small dot in the drop. Here is the final effect:

Rain Drops Photoshop Tutorial

Note: For making the curved drops select the Drop 1 layer then go to Filter > Liquify and make appropriate shape and click OK.



Wednesday, November 12, 2008

Menentukan Harga Sebuah Karya Desain

Dalam dunia desain (khususnya dunia webdesign) banyak sekali cara menentukan harga sebuah desain yang diterapkan oleh perusahaan jasa desain ataupun freelance desainer. Ada yang memberikan harga per-paket, ada yang berdasarkan jumlah halaman, ada yang menentukan flat-price, ada pula yang menetukan berdasarkan rate per-jam atau per-hari.

Bagaimana sebuah kerja kreativitas dihargai? Sedemikian sulit-kah menentukan harga sebuah desain? Argumen apakah yang bisa diberikan seorang desainer dalam menentukan harga sebuah desain? Ini adalah masalah klasik dalam dunia desain, khususnya bagi para freelance desainer.

Berdasarkan obrolan dengan sesama freelance desainer dan juga dari pengalaman, saya mencoba merumuskan bagaimana memberi harga pada sebuah hasil karya kreatif. Sebenarnya ini bukan rumus mutlak. Setiap desainer pasti punya cara sendiri-sendiri untuk menentukan harga sebuah pekerjaan desain. Tapi paling tidak ini merupakan satu cara menentukan harga desain yang kira2 mungkin bisa diterapkan dan mungkin “cukup fair”.

Caranya adalah dengan memakai formula:

HP = HT – (d x HT)

dimana: HT = [ R x W ] + K + M

HP = Harga penawaran sebuah desain atau project desain
HT = Harga total pekerjaan desain
R = Rate per-hari atau per-jam dari seorang desainer dimana 1 hari = 8 jam kerja
W = Estimasi waktu lamanya pengerjaan desain/proyek
K = Harga konsep desain
M = Harga material desain.
d = prosentase potongan harga (discount) yang diberikan

Mengapa saya bilang “cukup fair”? Ini disebabkan karena dengan formula ini seorang desainer dituntut untuk bisa memberikan estimasi yang masuk akal dan cukup objektif akan hal2 seperti: seberapa objektif seorang desainer menilai skill desain dan pengalamannya, berapa lama sebuah pekerjaan bisa diselesaikan, berapa harga sebuah konsep desain atau perlu/tidaknya memberikan potongan harga kepada klien, dsb. Juga dikatakan “cukup fair” karena dengan menerapkan perhitungan ini, kedua belah pihak (desainer dan klien) diharapkan bisa melihat sisi objektif dari sebuah pekerjaan desain. Calon klien tidak merasa dibohongi dan di sisi lain desainer juga tidak merasa bekerja rodi.

Menentukan Variabel2 Formula.

1. Rate ®
Rate adalah harga perhari atau perjam yang ditentukan pada kemampuan seorang desainer dalam mengerjakan pekerjaan2 desain. Besarnya bergantung pada skill yang dikuasai, pemahaman konsep desain, pengalaman, portfolio, kredibilitas klien yang pernah ditangani, dsb. Singkatnya R bergantung pada pengalaman dan jam terbang seorang desainer.

Sebagai contoh seorang desainer yang menguasai seabrek software desain mulai dari Photoshop sampai program 3D tercanggih, memiliki pemahaman konsep desain yang dibuktikan dengan portfolio yang ditunjukkan, pernah bekerja di perusahaan desain terkemuka, berpengalaman menangani klien2 “wah” seperti Nokia, BMW, dsb, bisa dikategorikan sebagai highly priced desainer dengan rate misalnya Rp. 2.000.000/hari. Sementara seorang lulusan sekolah desain yang baru memiliki 2-3 portfolio dari perusahaan2 kecil bisa dikategorikan sebagai pemula dengan rate sekitar Rp. 100.000/hari. Disini, seorang desainer dituntut untuk mampu mengestimasi “nilai jual” dirinya berdasarkan faktor2 tersebut.

R bisa dihitung perhari ataupun perjam. Mengapa? Beberapa desainer menentukan rate/hari dengan alasan kemudahan perhitungan. Desainer lain menerapkan rate/jam dengan alasan agar lebih gampang menghitung waktu untuk revisi. Sebenarnya ini sama saja. Seperti disebutkan di atas, 1 hari = 8 jam. Sekarang kembali kepada sang desainer untuk menghitung lamanya pengerjaan sebuah proyek desain dalam hitungan hari (agar lebih sederhana) atau dalam hitungan jam agar lebih detail.

Tetapi ada satu hal lain yang harus dipertimbangkan. Ada kalanya rate/jam sangat sulit diterima oleh klien di Indonesia. Di negara2 maju dimana pekerjaan desain sudah dihargai dengan baik, rate/jam mungkin bisa diterapkan dan diterima oleh calon klien. Ini karena profesi desainer sudah dianggap sejajarkan dengan pekerjaan jasa profesional lain seperti pengacara, dokter, dsb. Akan tetapi bila kita berbicara dalam konteks lokal, berdasarkan pengalaman saya, rate/jam sangat sulit untuk diterima oleh umumnya klien di Indonesia. Tapi bila seorang desainer merasa confident untuk menerapkan rate/jam untuk klien di Indonesia, well.. why not?

2. Estimasi Lamanya Pengerjaan (W)
Estimasi lamanya waktu pengerjaan adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah desain/proyek desain. Berkaitan dengan rate ®, waktu bisa dihitung dalam satuan hari ataupun jam. Sebagai gambaran, jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) halaman HTML tanpa programming tentu akan berbeda dengan jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) halaman website full-flash.

Dalam menentukan jumlah hari ini desainer dituntut untuk reasonable dalam arti tidak mengada-ada dan masuk diakal. Sebagai contoh mengerjakan sebuah halaman HTML simpel tentu tidak akan memakan waktu sampai 7 hari (56 jam), bukan? Bila desainer menetapkan variabel Rate ® dalam satuan hari, variabel H tidak harus bulat, ia bisa bernilai 0.5 (setengah hari = 4 jam) hari atau 0.25 (seperempat hari = 2 jam).

3. Harga Konsep Desain (K)
Yang agak rumit mungkin menentukan harga konsep desain. Akan tetapi kita bisa mengira2 seberapa original dan brilyan-nya sebuah konsep desain. Disinilah seorang desainer dituntut untuk bisa menguraikan konsep desain yang ia tawarkan. Bukan hanya terbatas pada ide dan tampilan visual semata, tapi juga mencakup hal2 lain seperti ‘look and feel’, tata letak (lay-out) yang baik, flow navigasi dan penempatan menu sebuah website, sitemap, pemilihan tagline, dsb.

Seorang teman desainer mengatakan bahwa ia juga menerapkan semacam perhitungan untuk menentukan harga K. Dalam kasus ini, harga K ditentukan dari berapa lama ia melakukan eksplorasi untuk mendapatkan ide dan menguraikannya menjadi sebuah konsep desain. Dengan kata lain, K=Rk x Wk (rate desainer dikalikan jumlah waktu eksplorasi). Rumit? Mungkin terlihat rumit, tapi sekali lagi, di negara2 maju (kebetulan teman saya tersebut pernah bekerja di luar negeri dan baru kembali ke Indonesia), ini merupakan hal yang wajar dan bisa diterima oleh klien.

4. Prosentase Potongan Harga (d)
Mungkin terkesan aneh bila diterapkan potongan harga untuk sebuah desain/proyek desain. Akan tetapi hal ini perlu dipertimbangkan bila seorang desainer menghadapi kasus dimana calon klien merupakan sebuah perusahaan besar dan menurut perkiraan memungkinkan terbentuknya long term relationship dan kontinuitas proyek. Dengan menerapkan discount, desainer bisa memberi alasan “proyek perkenalan” dimana sebagai awal long term relationship, sebuah desain yang bagus diberi harga yang relatif murah. Bila memang tidak mau, desainer bisa memberi harga 0 (nol) untuk variabel ini.

5. Harga Material Desain (M)
Harga material desain adalah total harga pengadaan material untuk pekerjaan desain yang mencakup harga session fotografi, pembelian stock image, pembelian lisensi additional software, fee copywriting. dan lain2

Sekarang mari kita lihat variabel mana yang nilainya bersifat fleksibel dan variabel mana yang bernilai tetap. Harga W yang pasti nilainya bersifat fleksibel karena bergantung dari skala proyek desain yang dikerjakan. Harga M juga bersifat fleksibel karena bergantung dari harga pihak ketiga yang menyediakan material desain (copywriter, fotografer, harga stock image, dsb). Harga d juga bersifat fleksibel seperti telah diuraikan di atas.

Harga konsep (K) pun bersifat fleksibel. Perbedaan ada pada cara menentukan harga tersebut. Seperti telah diuraikan di atas, ada beberapa desainer yang menetapkan nilai K dengan rumus K=Rk x Wk. Tapi ada juga desainer yang menetapkan nilai K tanpa menguraikannya seperti itu. K adalah sebuah nilai yang mencakup seluruh hal mulai dari eksplorasi, ide, konsep, dsb. Semata-mata karena pertimbangan kemudahan. Sebenarnya keduanya sama saja, itu hanyalah cara desainer untuk memberikan argumen yang tepat untuk harga sebuah kreativitas.

Bagaimana dengan variabel R?

Ada dua fenomena menarik. Beberapa freelance desainer (dan juga umumnya agensi desain) mematok harga R tetap (fixed) dengan alasan bahwa harga tersebut adalah standar profesionalisme mereka. Desainer dengan harga R tinggi harus bisa bekerja dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan desainer dengan harga R yang lebih rendah untuk sebuah hasil yang kualitasnya sama. Artinya klien yang menyewa desainer dengan R tinggi akan diuntungkan dengan waktu pengerjaan (W) yang lebih singkat/cepat bila dibandingkan dengan mempekerjakan desainer dengan harga R yang lebih rendah.

Di sisi lain ada desainer yang lebih fleksibel dengan harga R yaitu dengan menentukan nilai R sesuai dengan kredibilitas ataupun skala perusahaan klien. Sebagai ilustrasi, desainer seperti ini memberikan nilai R yang tinggi kepada sebuah perusahaan multi-nasional yang memiliki aset milyaran dan memberi rate yang lebih rendah kepada perusahaan kecil berbudget rendah, misalnya.

Contoh berikut mungkin bisa lebih memperjelas:

Seorang desainer level menengah memberikan rate perhari sebesar Rp. 700.000/hari sesuai dengan skill, portfolio, pemahaman konsep dan pengalamannya kepada firma-hukum mid-size untuk mengerjakan website company profile. Struktur website tersebut adalah sebagai berikut:
http://home.graffiti.net/kamdih/sitemap.jpg
Struktur tersebut akan diterapkan dalam halaman2 berbasis HTML dengan tambahan features animasi flash di frontpage-nya dan aplikasi backoffice untuk news update. Estimasi pengerjaannya adalah 10 hari. Tampilan visual, look and feel serta alur navigasi dari website yang akan dibuat sangat sesuai dengan corporate image dari firma-hukum tersebut yang dibuktikan dengan mock-up yang telah dibuat. Untuk itu si desainer memberikan harga Rp. 3.000.000. Stok foto dan text untuk website disediakan oleh client, sehingga harga material = 0 (nol). Desainer tersebut memutuskan memberikan discount sebesar 10% dari harga total dengan pertimbangan akan terjalin long term relationship dimana firma hukum tersebut nantinya mungkin juga akan membuat aplikasi intranet, dsb.

Dalam kasus ini, harga penawaran adalah sebesar:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 10.000.000

HP= 10.000.000 – (10% x 10.000.000) = 9.000.000

Jadi, harga penawaran yang diajukan adalah sebesar Rp. 9.000.000. Bila ternyata calon klien melakukan bargaining, desainer bisa bertahan dengan memberikan argumen bahwa secara konsep, desain tersebut sangat cocok dengan corporate image perusahaan atau effort yang dikeluarkan untuk pengerjaan proyek memang cukup besar.

Kemungkinan besar, calon klien akan bersikeras melakukan bargaining terhadap harga2 variabel2 tersebut. Disini, desainer bisa memperkecil harga penawaran dengan menurunkan harga rate per-hari menjadi Rp. 650.000 misalnya, sehingga manjadi:

HT= (650.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 9.500.000

HP= 9.500.000 – (10% x 9.500.000) = 8.550.000

atau memperbesar prosentase discount menjadi 15%:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 10.000.000

HP= 10.000.000 – (15% x 10.000.000) = 8.500.000

Dalam contoh tersebut bisa dilihat bahwa sang desainer melakukan bargaining dengan menerapkan harga R yang fleksibel dengan tidak mengurangi waktu pengerjaan (W) berdasarkan pertimbangan2 tertentu misalnya load pekerjaan yang tinggi, dsb. Sementara desainer yang menetapkan fix rate R, bargaining mungkin bisa dilakukan dengan memberikan discount atau mengurangi waktu kerja (W)

Formula tersebut saya rasa cukup general dan bisa dipakai untuk menentukan harga pekerjaan desain lainnya dan tidak terbatas hanya pekerjaan webdesign. Ia bisa juga diterapkan untuk pekerjaan desain grafis
Secara teknis pengerjaan poster tersebut mungkin bisa dikategorikan sebagai mudah dan dapat diselesaikan dalam 1 hari saja. Akan tetapi dengan klien sekelas Warnerbros, desainer bisa menetapkan rate per-hari ® yang cukup tinggi. Ditambah lagi dengan konsep desain yang original dan brilyan yang dilengkapi dengan tagline “Everything That Has a Beginning Has an End” mungkin variabel K bisa dihargai jutaan dollar.

Satu hal lagi, contoh diatas adalah dalam kasus programming atau actionscripting dilakukan oleh satu orang desainer yang sama. Namun formula ini juga bisa diterapkan untuk pekerjaan dimana programming atau flash actionscripting dilakukan oleh orang2 yang berbeda. Jadi bila sebuah desain website misalnya menyangkut juga pembuatan basis-data, programming dan actionscripting, harga penawaran adalah akumulasi dari harga yang diajukan tiap2 team member yang terlibat di dalam pekerjaan tersebut.

Sekali lagi, cara di atas bukanlah sebuah hal mutlak. Ini hanyalah salah satu cara dan penerapannya juga kembali kepada desainer yang bersangkutan. Satu hal yang pasti, formula ini juga tidak akan menjamin diperolehnya sebuah pekerjaan/proyek desain? Harus dibedakan disini antara menentukan harga desain dengan mendapatkan proyek desain. Deal sebuah pekerjaan desain bergantung dari banyak faktor lain seperti relasi, jenis klien, budget, kualitas desain, dsb. Tidak ada jaminan bahwa dengan menerapkan formula ini sebuah proyek desain pasti akan diperoleh. Akan tetapi, minimal seorang desainer memiliki dasar untuk menentukan harga sebuah desain dan tidak hanya bisa bergumam sambil berkeringat dingin bila sang klien mempertanyakan dasar penentuan harga desain yang ia tawarkan. (Harry JH)

Tuesday, November 11, 2008

Komunitas Kolektor Rokok

Penulusuran dan perjalanan keinginan yang tidak terbendung dimana, pada suatu titik kita harus menentukan arah mana yang akan kita tempuh, kiri kanan, atas bawah, hutan, kota, laut, sungai. Tapi ada kalanya kita harus mengambil semua arah pada saat semua arah sudah kita lalui. Kesempatan untuk menentukan arah itu ada pada diri kita. Sama halnya dengan penulusuran saya ketika awal tahun 2004, pada saat itu saya ingin mencari merk-merk rokok yang tidak lazim di pasaran atau jarang di temui di pasaran yang biasanya rokok tersebut beredar di pedesaan atau perkampungan tapi pernah juga saya menemukan rokok yang beredar di perkotaan. Padahal saya bukan termasuk type perokok tapi saya cukup senang dengan hoby ini. Ternyata hoby ini berlanjut hingga saat ini, walaupun koleksi rokok saya hanya sedikit tapi cukup menyenangkan, karena dengan merk-merk tersebut dapat memeberikan inspirasi serta kelucuan dan rasa humor yang OK !

Tapi untuk menemukan rokok-rokok tersebut kadang banyak menimbulkan banyak cerita, dan rokok-rokok yang saya punya tidak semuanya hasil hunting sendiri ada juga beberapa teman-teman yang membawakannya, ketika mereka melakukan perjalanan khususnya ke wilayah jawa tengah dan jawa timur, ada juga yang memberikan kemasannya saja karena isi dari rokok tersebut sudah di hisap teman.
Sampai saat ini masih sibuk lirik kiri kanan jalan yang ada warung, sejenak terhenti ketika ada beberapa merk yang belum pernah saya jumpai. Dengan hasil hunting sudah terkumpul beberapa merk rokok tapi saya bingung untuk menempatkan dimana koleksi saya, untuk sementara ini mereka saya tempatkan pada kardus bekas sepatu istri saya. Cukup aman sementara waktu di simpan dalam kardus tersebut tapi saya harus tetap menjaga kondisi mereka dengan memberikannya Cilika Gel agar mereka tetap terjaga kemasannya, dan kondisi tembakaunya.




Pada pertengahan tahun 2008 berdiri berdiri mailinglist komunitas kolektor rokok kolektor-rokok@yahoogroups.com. Awalnya saya ikut nimbrung ngomongin tentang merk-merk rokok blog www.bandarbarang.wordpress.com, ternyata banyak juga yang punya hoby seperti saya, dan pada suatu sore dapat SMS kalo ga salah dari Mas Dedy yang punya ide untuk membentuk komunitas kolektor rokok. Dan bergabunglah saya dengan komunitas kolektor rokok tersebut, disitu kita banyak tukar menukar informasi tentang merk-merk rokok ada juga yang barteran rokok karena diantara kolektor ada yang mempunyai beberapa double. Pada tgl 19 Oktober 2008 milist mengadakan Halal Bihalal (KOPDAR) dan pendeklarasian Komunitas Kolektor Rokok yang bertempat di rumahnya Mas Medi di bilangan Cireundeu Ciputat Tangerang, tapi sayang saya tidak bisa hadir karena ada sesuatu hal putra saya sakit, jadi saya harus tinggal diam di rumah…… tapi saya cukup gembira dengan hasil yang di bentuk oleh rekan-rekan di milist.

Festival Kretek , 15 Maret 2009 @ O LaLa Cafe Bintao

Friday, August 22, 2008

Getting a Handle on the Creative Process for Graphic Designers

The Graphic Design industry is very competitive, and trust me, it can certainly get stressful and frustrating at times. However, it doesn’t always have to be that way. Here, I have broken down my design process. This is how I create my design layouts from start to finish. Basically, with some focus, structure, and a little bit of talent, creating rewarding and professional design work can be produced more efficiently and with less stress.

Research

Research for graphic design layout

The very first thing on my long list is to research and learn as much about my client(s) as possible. The more I know, the easier the project will be. For instance, I can only imagine the embarrassment of having a client question why images of plastic bottles were used when they only sell organic material. So to avoid such mistakes, I analyze my customers to ensure accuracy, and start off on the right foot to avoid any problems or issues later on.

Brainstorming

brainstorming for graphic design layouts

I find that striving to be as unique and innovative as possible while still following the current trends, ensures a fresh and creative way of thinking. I often look through magazines, sketch, browse the internet, and listen to music to get creative inspiration. Occasionally, I’ll look for previously designed materials a client has created, just to see where their graphic design and/or branding stands. Sometimes this helps spark a new idea or concept. Making thumbnails and rough sketches helps me work through my ideas. I also tend to ask friends and colleagues about what they think to me get a different perspective on the design. I’m most creative when I’m relaxed, so I make sure that I am comfortable, otherwise I find it very hard to keep focused. If I’m stuck on an idea then I go for a walk to clear my head because forcing an idea won’t result in a good design. This is just my method, everyone has their own way of getting in to that “creative zone”.

The Elements

For me structure is important, I use a few elements as guidelines that help me to balance the level of unity within a composition. I basically break down design into three categories typography, negative space and color.

Typographytypography in graphic design layout

Typography is a very substantial and fundamental part of any design. After I’ve come up with a good concept or two, i‘lI start looking for an appropriate typeface, one that will define the mood and act sort of like an anchor that I can work with. Usually I’ll spend a good deal of time searching for something tasteful and fitting. The following two fonts sites - www.dafont.com and www.fontfreak.com - are two pretty good font resources with lots of variety. Once I have picked fonts that I like, I’ll play with it for a while, resize it, kern it, rotate it etc. and just have some fun with it. To keep the piece more cohesive and easier to read, I prefer to keep the number of typefaces in a design to a minimum to maintain consistency.

Negative Space

negative space white space
It took me a while to realize that less is really more and that there are big advantages of using more open space in any design. It helps with contrast and clarity and the overall message of the design comes through clearer. If there is too much going on, and my design starts to get cluttered, then I’ll take a step back and really look at how the whole piece looks as a whole. If there’s something that looks awkward or doesn’t need to be in the design, then I remove it. I think paying attention to the negative space throughout the design process inevitably points me in the right direction and saves time with revisions or alterations later on.

Colors

color combinations in graphic design

I like to have fun playing with different color combinations. There are so many color schemes that sometimes I’ll spend hours if not days trying to decide on one that will present the look and feeling I want to portray. I always thought that the psychological effect that colors present was fascinating. For example, when you see red, food may come to mind. While seeing the color blue, the feeling of tranquility and relaxation is felt by the viewer. I always found the unique meanings of color pretty handy for design. Using the right colors will make all the difference. I’ll usually try and pick tones rather than straight colors because it’s less generic. I am also a big fan of plain black and white, because the combination and contrast is so strong. A good site I check frequently is www.colourlovers.com, which is a site where users post their favorite color combinations. Colourlovers.com also does a great job explaining what color combinations are good or bad and why.

graphic design prepress and printing

As a closing note, I’d like to say that graphic design really is a driven industry led by people who truly are proud and passionate about it. I have a hard time separating myself from my designs, and when an idea gets shot down I’d be lying if I said it didn’t bother me a little. So, what do I do? I push myself harder, because It really does reflect in the design. I’d say some of my best work came from ideas that were the result of constructive criticism.

www.allgraphicdesign.com
www.damiennorthmore.com

Thursday, August 7, 2008

How To Design A Logo

Want to know how to design a logo like a professional and have all the resources you need in just one post? Then this is the post for you… Learn professional logo design in just 5 steps! This article was posted on David Airey’s blog for a guest post on 5 Vital Logo Design Tips.

1. Learn What A Logo Is & What It Represents
Before you design a logo, you must understand what a logo is, what it represents and what it is supposed to do. A logo is not just a mark - a logo reflects a business’s commercial brand via the use of shape, fonts, colour, and / or images.


A logo is for inspiring trust, recognition and admiration for a company or product and it is our job as designers to create a logo that will do its job. One must know what a logo is before continuing. For further Reading on what is a logo check out Wikipedia’s Definition or CreativeBits’s discussion on what is a logo?


2. Know The Rules & Principles Of Logo Design



Now that you know what a logo is supposed to do, and what it should represent you now must learn about what makes a great logo aka; the basic rules and principles of logo design.
As David quotes…

  1. A logo must be describable
  2. A logo must be memorable
  3. A logo must be effective without colour
  4. A logo must be scalable i.e. effective when just an inch in size

For Further reading on the rules and principles of great logo design I highly recommend to read the logo design tips from Logo Factory before continuing.



3. Learn Off Other’s Successes & Mistakes


Successful Logos
Now you know what the rules of logo design are, you can distinguish the difference between a good and a bad logo… By knowing what other logos have succeeded and why they have succeeded gives a great insight into what makes a good logo.
For example, lets look at the classic Nike Swoosh. This logo was created by Caroline Davidson in 1971 for only $35 yet it still a strong, memorable logo, effective without colour and easily scalable. It is simple, fluid and fast and represents the wing in the famous statue of the Greek Goddess of victory, Nike - something perfect for a sporting apparel business. Nike is just one of many great logos, think about other famous brands that you know about and check out their logos - what makes them successful? For more quality, lesser known logos I recommend checking out LogoPond or going to your local book store or library and looking at a logo book.

The Not So Successful Logos

We can also learn off logos that have not been as successful such as the ones in the above picture. Some more very bad logos can be seen in the post ‘Is Your Design Phallic? As seen in that post, some logos can depict things that may have not always be noticeable to the designer (as in the middle logo above) or they could just be plain bad design, as in the logo to the right.


4.Establish Your Own Logo Design Process


Now that we know what a logo is, and what the principles and rules of logo design are and what makes a successful logo we can now finally begin the design process. This it hardest part of the 5 steps and is its own topic in itself - Each persons logo design process is different and experience usually is the key factor in creating your own logo design process but for an example of a well established logo design process check out David Airey’s.


In short, a logo design process usually consists of

  1. The Design Brief
  2. Research & Brainstorming
  3. Sketching
  4. Prototyping & Conceptualising (See Step 5)
  5. Send To Client For Review
  6. Revise & Add Finishing Touches
  7. Supply Files To Client and Give Customer Service

If you ever get stuck before or during your design process check out this great article on How To Boost Your Creativity.


5. Learn The Software & Complete The Logo
After you have got your design process sorted out, it is usually a good time to begin mastering your software (Here is a short tutorial for beginners). But before I get to that, I just want to point out that Step 4 and Step 5 overlap - as it is a catch 22 situation… You can’t design a logo by just hopping straight onto the computer nor can you design a logo without knowing your software (such as Adobe Illustrator). Anyway, putting this aside, after you have got your initial ideas and sketches from brainstorming you can then usually jump onto the computer to start digitising your logo. After you have got a great concept(s) digitised you can send it to your client, get revisions, and eventually complete the logo and thus, you have successfully created a professional logo. Do you have any other tips or suggestions on how to create a professional logo? (http://justcreativedesign.com)

Monday, July 28, 2008

Urban Art

Urban art adalah seni yang mencirikan perkembangan kota, dimana perkembangan itu kemudian melahirkan sistem di masyarakat yang secara struktur dan kultur berbeda dengan struktur dan kultur masyarakat pedesaan. Saat ini seni bukan lagi sekedar berlatar belakang tradisi tapi justru lebih merespon tradisi-tradisi baru terutama di daerah perkotaan yang secara demografis dihuni oleh anggota masyarakat yang sangat heterogen.

Urban art lahir karena adanya kerinduan untuk merespon kreativitas masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dengan segala problematikanya. Maka munculah usaha dari sekelompok orang untuk memamerkan dan mendatangkan seni ditengah-tengah masyarakat dengan cara melakukan kebebasan berekspresi di ruang publik. Ekspresi yang ditampilkan adalah ekspresi yang mencoba memotret permasalahan-permasalahan yang kerap terjadi dan mendominasi masyarakat urban mencakup masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya. Melalui media seni dan dilatarbelakangi oleh pertumbuhan dan kapitalisasi kota itu sendiri. Zaman sekarang seni bukan lagi sebuah representasi yang ditampilakan digaleri saja, tapi sebuah media ekspresi yang bertarung di fasilitas publik dengan media lainnya seperti iklan di TV, billboard iklan, poster promosi, baligo dan lain-lain. Semua media ekspresi tersebut mendominasi dihampir setiap fasilitas publik.

Urban art berhasil memangkas hubungan yang berjarak antara publik sebagai apresiator dengan sebuah karya seni. Menggantikan fungsi seni yang tadinya agung, klasik, murni, tinggi serta tradisional. Seni diposisikan sebagai sesuatu yang konservatif dan sarat dengan nilai pengagungan. Urban art berhasil meruntuhkan nilai-nilai tersebut dengan cara menghadirkannya ke tengah publik melalui media-media yang erat dengan keseharian masyarakat kota. Bila menarik elemen lokal dalam urban art, lukisan di bak truk dan becak adalah contoh urban art.

Tujuan urban art lebih berakar pada perbedaan sikap politik, anti kemapanan, vandalisme dan perlawanan terhadap sistem dominan dimasyarakat. Bentuk konkret urban art bisa bermacam-macam sepanjang karya seni itu mengusung spirit dinamika urban. Di kota Bandung kita bisa melihat semua ekspresi semangat urban itu dalam berbagai bentuk. Seperti komunitas musik punk yang kerap menggelar street gigs di bawah jembatan layang Pasupati, seniman tradisi yang rutin menggelar kesenian pencak silat di taman Cikapayang atau juga lukisan-lukisan mural ditiang-tiang jembatan layang Pasupati.

Pada akhirnya urban art berhasil dikomodifikasi oleh komunitasnya sendiri. Bentuk-bentuk kesenian terutama seni mural dan grafiti sekarang terutama di kota Bandung lambat laun berhasil menjadi sesuatu yang mempunyai nilai ekonomis. Banyak para seniman mural dan grafiti yang mengekspresikan ide mereka dengan para pemilik distro atau clothing di Bandung. Para pemilik distro ini memfasilitasi para seniman tersebut dengan menyediakan space/lahan untuk berekspresi. Selain memberikan nilai estetika pada toko, mereka juga ikut memberikan penyaluran terhadap keinginan seniman tersebut untuk berkarya.(AH)

dikutip dari: (http://bandungcreativecityblog.wordpress.com)